Belajar Bahasa Inggris:
Zaman Dulu, Hafal Grammar;
Zaman Sekarang, Latihan Conversation.
Kenapa Dua-duanya Tetap Kesulitan di Perguruan Tinggi?
Belajar Bahasa Inggris:
Zaman Dulu, Hafal Grammar;
Zaman Sekarang, Latihan Conversation.
Kenapa Dua-duanya Tetap Kesulitan di Perguruan Tinggi?
Belajar Bahasa Inggris versi Zaman Dahulu
Orang tua yang lahir pada era 1970-an dan 1980-an mungkin cukup familiar dengan cara belajar bahasa Inggris pada zamannya. Kalau nilai bahasa Inggris di sekolah kurang bagus, solusinya biasanya cukup jelas: beli buku grammar, hafalkan rumus, kerjakan latihan soal, atau cari tempat les untuk mendapat tambahan materi dan pembahasan.
Kalau rajin belajar dan mengikuti latihan, hasilnya pun biasanya terlihat. Nilai bahasa Inggris bisa naik cukup signifikan. Tidak jarang, ketika mengikuti berbagai tes bahasa Inggris, kita bisa mendapatkan nilai 80 atau bahkan 90.
Masalahnya baru terasa beberapa tahun kemudian. Ketika kuliah dan harus membaca textbook berbahasa Inggris, tiba-tiba memahami isinya tidak semudah mengerjakan soal grammar. Ketika harus menulis esai dalam bahasa Inggris, kita bingung harus mulai dari mana. Ketika harus berdiskusi atau melakukan presentasi formal dalam bahasa Inggris, kemampuan yang selama ini terlihat baik di atas kertas ternyata tidak banyak membantu. Akhirnya, banyak yang mengambil kelas conversation untuk memperlancar kemampuan berbicara. Sedikit demi sedikit kemampuan komunikasi sehari-hari memang membaik, tetapi kebutuhan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam konteks akademik dan profesional tetap menjadi tantangan.
Belajar Bahasa Inggris versi Zaman Sekarang
Kemudian, ketika memiliki anak, banyak orang tua tentu tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama. Karena itu, sejak kecil anak diperkenalkan pada bahasa Inggris melalui sekolah atau kursus yang lebih menekankan conversation. Logikanya masuk akal: jangan sampai anak hanya hafal teori, tetapi tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Hasilnya, banyak anak sekarang memang jauh lebih lancar menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari. Mereka bisa mengobrol dengan teman, memesan makanan, bercerita, dan bercanda dalam bahasa Inggris.
Namun, ketika tuntutan bahasa Inggris meningkat di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, masalah yang mirip mulai muncul. Mereka kesulitan memahami textbook yang kompleks. Mereka kesulitan menulis esai akademik. Mereka kesulitan menyusun dan mempertahankan sebuah argumen. Dan ketika harus melakukan presentasi atau diskusi formal, mereka sering kali bingung.
Kesalahpahaman Belajar Bahasa
Di sinilah masalah yang lebih mendasar muncul. Banyak orang merasa bahasa hanya sekadar alat komunikasi. Padahal, bahasa juga merupakan alat berpikir. Kita berpikir menggunakan bahasa. Kita menganalisis informasi menggunakan bahasa. Kita membandingkan berbagai sudut pandang, mempertimbangkan bukti, menyusun argumen, menarik kesimpulan, dan mempersiapkan apa yang ingin kita katakan atau tulis, semuanya melalui bahasa. Karena itu, menguasai bahasa Inggris tidak berhenti pada kemampuan menerjemahkan atau menyampaikan kalimat dalam bahasa Inggris.
Belajar grammar dan mengerjakan latihan soal memang penting. Conversation juga penting. Keduanya membantu kita membangun fondasi bahasa. Namun, setelah kemampuan bahasa mencapai tingkat menengah, kebutuhan kita berubah. Kita tidak lagi hanya perlu belajar tentang bahasa Inggris. Kita perlu mulai belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berpikir. Kita perlu belajar membaca dan memahami informasi yang kompleks, menganalisis sumber, membedakan fakta dan opini, mengevaluasi argumen, menyusun pemikiran, kemudian mengomunikasikannya dengan jelas, baik secara tertulis maupun lisan.
First Language English (FLE) / English Language Arts (ELA)
Inilah area yang menjadi fokus dalam kurikulum First Language English (FLE) yang banyak digunakan dalam sistem pendidikan Inggris dan internasional, serta English Language Arts (ELA) dalam sistem pendidikan Amerika Serikat. Pada tahap ini, bahasa Inggris bukan lagi sekadar mata pelajaran yang harus dikuasai atau bahasa yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Bahasa Inggris menjadi medium untuk belajar, berpikir, menganalisis, dan berkomunikasi secara kompleks.
Pada kurikulum FLE / ELA, siswa belajar memahami berbagai jenis teks, dari fiksi hingga nonfiksi. Mereka belajar membaca secara kritis, menyusun tulisan yang terstruktur, membangun argumen berdasarkan bukti, serta menyampaikan ide melalui diskusi, presentasi, debat, dan bentuk komunikasi formal lainnya.
Advanced English
Itulah tahap berikutnya dalam belajar bahasa Inggris. Bukan sekadar bisa menggunakan bahasa Inggris untuk menjawab soal/daily conversation, tetapi mampu berpikir, belajar, dan berkomunikasi melalui bahasa Inggris. Itulah yang kami kembangkan di ELEVATE Advanced English Academy. Jika anak Anda sudah cukup kuat dalam general English dan Anda ingin membawanya ke tahap berikutnya, Anda dapat menghubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.